Catatan 21 Februari 2023
Keinginan aku buat jadi cosplayer itu kan sebenarnya agar aku stand out dari kebanyakan perempuan yang isi media sosialnya itu cuma outfit keseharian yang udah umum. Aku juga inginnya cosplay pakaian dari tokoh yang masih mirip sama outfit yang emang normal dipake sehari-hari. Biar apa jadi stand out itu? Tujuan awalnya biar lebih gampang cari jodoh, karena dengan keunikan yang kita miliki akan tercipta interaksi yang diharapkan akan berujung kenyamanan.
Sebagai orang yang tidak terlalu mudah untuk bergaul di dunia nyata, aku anggap ini kesempatan untuk unjuk bakat di media sosial. Kenyamanan kan didapat dari interaksi. Dengan kita punya keunikan, orang akan lebih tertarik untuk berinteraksi dengan kita. Akan tetapi, jika terlalu cepat dapet jodoh, baru aja mulai jadi cosplayer rasanya tetep aja nggak sepenuhnya memuaskan.
Pengennya sih pake outfits yang sebanyak-banyaknya menggunakan referensi dari tokoh-tokoh kartun, asalkan masih realistis. Kalo udah nikah, kayaknya nggak akan sebebas sekarang untuk coba-coba outfits. Sekarang juga bukan berarti bebas sih, karena masih tinggal bareng ortu yang lumayan strict soal pakaian. Paling tepat buat aku itu ya tinggal di kost sendirian dan masih jomblo biar pengalaman cosplay juga mantap jiwa dan mantap buat jiwa!
Seorang warganet bilang aku ini bodohnya unlimited karena pengen cari jodoh lewat likers di media sosial. Kayaknya dia pengennya aku cari jodoh itu pake cara yang konvensional, yaitu ta’aruf dan tetep tutup aurat. Selama ini aku kalo post foto di Ig feed dapat likes-nya nggak terlalu banyak, terbanyak itu sekitar 50-an orang. Itupun yang kasih like kebanyakan temen perempuan jaman sekolah, temen satu circle paling-paling.
Lain halnya apabila memilih jalan menjadi seorang yang mencontek gaya tokoh-tokoh animasi. Pasti like dan komentarnya banyak, karena akun kita punya keunikan dan mengkonversi gaya kartun ke pakaian kita itu menarik.
Tinggalkan komentar