Tidak Hanya Sekadar Tentang Cosplaying

Catatan 16 Februari 2023

Alasan aku susah jujur soal apa yang bikin aku stres selama nyaris 20 tahunan itu most likely nomor 3 (tiga) dari ketiga alasan di atas kenapa orang susah untuk cerita.

Percaya nggak sih soal aturan berpakaian itu bagi aku sesuatu yang bikin tertekan? Kebanyakan orang pikir itu bukan hal yang harusnya dipermasalahkan, justru harus diterima. Anehnya, meski sejak balita udah ditanamkan apa itu pakaian yang sesuai ajaran agama, sudah ada keinginan yang menggebu-gebu untuk meniru pakaian banyak tokoh kartun dan anime. Sudah ditanamkan oleh sekian banyak orang, termasuk oleh kedua ortu bahwa “Itu dosa, itu haram”, keinginan itu malah terus nempel sampai kepala dua lebih dan kayak nggak ilang-ilang!

Bahkan sampai ada kawan SMA yang bilang aku kayak orang ateis gara-gara merasa terkungkung oleh aturan berpakaian wanita dan pengen lepas hijab! Swear, omongannya itu pernah bikin aku stres sampai jedot-jedotin kepala ke tembok sambil nangis-nangis pas bangun tidur! Dari luar (sudut pandang orang lain yang nggak mengalami) pastinya bakalan bilang itu “lebay” atau “baper”, makanya aku makin ke sini makin males curhat soal ini kecuali sama orang-orang tertentu aja. Para perempuan sesama hijabers belum tentu sependeritaan meskipun mereka juga sama-sama menjalankan aturan itu, karena mungkin dulunya mereka nggak langsung dilarang pakaian tertentu sama ortunya, nggak kayak aku!

Dengan kata lain, mereka baru menutupi aurat mereka itu ketika udah usia bukan bocil lagi. Atau, mereka udah pake sejak kecil tapi katanya mereka bahagia ketika memakainya, denger ini selalu skeptis, masa iya sih. Mamah aku pas baru nyoba pake di usia 22 malah dilarang sama bokapnya (Eyang Kakung aku berarti). Hanya bisa mengelus dada dengan fakta bahwa Mamah mendapatkan privilege tersebut, sementara beliau sendiri yang bilang ke anak perempuannya, “Kamu itu jangan egois!” ketika beliau denger aku curhat pengen lepas dari keterbelengguan sejak usia lima tahun ini.

Papah aku lebih ekstrim malahan! “Keluar dari rumah ini kalau kamu pengen buka jilbab!” begitu katanya. Mamah ini bukannya terpengaruh beliau, karena sejak sebelum menikah juga sudah memakainya. Oleh karena itu, aku nggak yakin bisa main aman jadi cosplayer sebelum jadi anak kost selain soal prioritas utama sebagai mahasiswi tua.

Sejak Oktober 2022 lalu, aku udah mulai main “kerudung dusta” (KerDus) kalo bepergian buat ngerjain tugas di rental komputer dan digital printing. Sebenarnya itu adalah cosplaying terselubung, karena pas pergi itu aku pernah jadi Crystal Zilla, Maria Wong, dan lainnya. Itulah sebabnya kenapa prinsip bermain kostum ini harus semirip mungkin dengan pakaian kasual, biar bisa dipake sehari-hari bukan cuma keperluan photoshoot di studio aja. Pas pergi dan pulang dari nugas, kudung aku pake dan rompi/cardigan dengan kancing hidup dikancingkan.

Nulis kayak gini itu sebenarnya aku juga ragu, takut ada yang marah. Orang lain sih takut ada yang marah itu kalo jadi temen curhat seseorang, kasus aku mah karena konten curhatannya dalam bentuk tulisan monolog kayak gini! Jaman SMP aja ada satu temen cewek yang kepo terus sama isi buku aku. Begitu dia nemu sendiri curhatan aku di buku itu mengenai rasa tercekik akan aturan berpakaian, dhuaarrr langsung BERAKsi!

Entah dia marah langsung secara verbal atau ngehapus tulisannya aku itu! Lah, siapa suruh sih dia baca? Kalo dirasa ofensif alias menyerang, ya itu karena hasrat ingin tahunya dia sendiri. Ibaratnya nekat masuk ke hutan yang dia nggak tau isinya, tau-tau paling ringan sih ya dikejar sekumpulan lebah.

Curiosity killed the cat

Arti dari peribahasa Bahasa Inggris ini : “Keingintahuan akan suatu hal akan bisa membawa seseorang dalam masalah.”

Nggak semua orang bahagia atas kehidupannya yang dia jalani. Lagian itu bukan buat nyerang pribadinya dia kok. Soalnya nulis curhat itu udah jadi cara aku buat meredakan perasaan stres yang dialami. Karena oknum-oknum model begini nih jadi nggak berani curhat lagi di diary dan lebih memilih untuk nulis hal-hal yang jadi minatku, misalnya Dr. Heinz Doofenshmirtz (kayaknya suatu saat nanti bakalan cosplay jadi dia juga deh)!

Ortu aku jauh lebih cepet marah soal pakaian aku daripada nilai akademik aku yang jeblok! Padahal semuanya penting deh, perasaan. Nggak ada yang remeh.
Katanya hijab untuk melindungi wanita? Kok persentase kasusnya malah gedean baju-baju yang sopan dan ketutupan ya?

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai